by

Kleberson, Wonderkid Brasil yang Gagal di Manchester United dan Pulang Kampung

Bolazola – Seusai Piala Dunia 2002 berakhir dengan Brasil sebagai pemenangnya, Manchester United memperkenalkan dua pemain barunya. Kedua pemain itu membentangkan syal Manchester United dan tersenyum ke arah mereka. Salah satunya, adalah pemenang Piala Dunia 2002 dan kala itu diklaim sebagai salah satu gelandang top di masa mendatang. Ya, namanya adalah Kleberson. 

Pemain bernama lengkap Jose Kleberson Pereira itu memang menjadi wonderkid yang tiba-tiba mencuri perhatian di Piala Dunia 2002. Meski usianya baru 22 tahun, wataknya pendiam dan tidak berpengalaman, dia punya bakat dan kelincahan yang kala itu, diprediksi bisa membawanya menjadi nama-nama besar seperti Ronaldinho dan Kaka. 

Setiap bermain di klub kota kelahirannya Athletico Paranaense, Kleberson memang selalu menunjukkan bakat dan keuletannya sebagai gelandang. Yang membuat namanya mulai terkenal di kalangan para pencari bakat, termasuk pelatih Brasil kala itu, Luiz Felipe Scolari. Lahir di negara bagian selatan bernama Parana, dia masuk akademi Athletico Paranaense dan secara bertahap menapaki tangga masuk skuat senior untuk Serie A Brasil tahun 2001.

Namanya memang belum tenar di sepak bola Eropa, namun penampilannya di Atletico Paranaense membuat Scolari merasa dia pantas untuk masuk skuat senior Brasil. Dia memang tidak ikut serta ketika babak kualifikasi zona Amerika Latin untuk Piala Dunia 2002. Namun namanya dipanggil ke skuat Piala Dunia 2002 Brasil bukanlah hanya untuk nampang saja. 

Setelah mengamankan tiket perempatfinal Piala Dunia 2002, Brasil akan menghadapi Inggris yang diasuh oleh Sven-Goran Eriksson. Kleberson, langsung diturunkan sejak menit pertama di laga tersebut dan langsung dimaksimalkan olehnya. Meski Brasil mengenang tendangan bebas fantastis dari Ronaldinho di pertandingan tersebut, gelandang muda dari Paranaense ini berhasil membuat Paul Scholes kelimpungan karena kecepatannya, penampilan dinamis dan membuat Scolari mempercayakannya di laga tersisa. 

Pada pertandingan final menghadapi Jerman, sorotan pun mulai mengarah kepadanya. Kleberson pun kembali menunjukkan permainan luar biasa, yang membuat nama-nama besar di kubu Jerman seperti Dietmar Hamann dan Jens Jeremies bermandikan keringat. Dia mampu menggerakkan bola dari pertahanan ke serangan, hingga memberikan assist untuk gol kedua Selecao yang dicetak oleh Ronaldo. 

Penampilannya dalam laga final itu memang mengesankan sampai diakui langsung oleh Scolari yang menyebut Kleberson memiliki peranan penting dalam kesuksesan Brasil menjuarai Piala Dunia 2002. Scolari seusai final 2002, sama sekali tidak menyebut penampilan solid Gilberto atau kehebatan Ronaldinho, melainkan terus memuji Kleberson sepanjang musim panas 2002. 

Seperti pemain lainnya, mengangkat trofi Piala Dunia yang diselimuti emas itu seperti menjadi puncak karir, sayangnya itu yang dialami oleh Kleberson padahal usianya masih amat muda. Semua lampu sorot dari klub-klub top dunia dan juga media, mengarah pada dirinya seorang. Barcelona dan Leeds United berminat, namun Kleberson berusaha bijak dengan menetap di Paranaense semusim lagi. Tapi ternyata, bukan pemikiran matang yang dilakukan olehnya, melainkan menunggu pacarnya hingga berusia 16 tahun untuk bisa dinikahi dan dibawa ikut ke Eropa. 

Ke Eropa, Menerima Pinangan Manchester United

kleberson
Kleberson ketika diperkenalkan sebagai pemain Manchester United. (Pinterest)

Leeds memang ngotot untuk mendapatkan tanda tangannya di musim panas 2003, setahun setelah Kleberson menetap di Athletico Paranaense. Namun, kala itu, sang gelandang berbakat sudah memilih Manchester United dan sepakat secara verbal. 

Dia pun menuntaskan kepindahan ke juara bertahan Liga Inggris dengan mahar sebesar 6,5 juta poundsterling tepat di tanggal 12 Agustus 2003. Dia menjadi pemain Brasil pertama yang berhasil menginjakkan kakinya di lapangan Theatre of Dreams. Kedatangannya diharapkan mampu menjadi pemimpin untuk peremajaan lini tengah skuat asuhan Sir Alex Ferguson. 

Secara spesifik, dia diboyong untuk menggantikan Juan Sebastian Veron, yang baru saja gabung Chelsea di musim panas yang sama. Banyak pundit menilai Kleberson sebagai mitra lini tengah ideal untuk Roy Keane, dengan beberapa bahkan menyebutnya sebagai pengganti jangka panjang dan disiapkan untuk jadi kapten tim di masa depan. Tapi, ada beberapa rumor yang mengatakan kedatangan Kleberson hanya akan digunakan untuk menarik perhatian pemain-pemain top Negeri Samba lainnya di masa mendatang. 

Kala itu, memang Manchester United sedang terus menggodok kesepakatan dengan Paris Saint-Germain untuk transfer Ronaldinho di musim panas 2002. Namun pelepasan David Beckham dari Man United ke Real Madrid, membuat kesepakatan atas perekrutan Ronaldinho yang sedang digodok runyam. Barcelona langsung ngebut melihat rival abadinya merekrut Beckham, yang akhirnya mendatangkan Ronaldinho dari PSG dengan tawaran lebih menjanjikan dari Setan Merah. 

Kembali lagi kepada Kleberson, yang tidak bisa berbahasa Inggris, tiba-tiba merasa terisolasi dan termakan dengan rumor dirinya hanya pemulus langkah MU mendapatkan Ronaldinho. Namun, tetap saja, optimisme tinggi masih ada di kalangan fans pada musim panas 2003, dengan kedatangan Tim Howard, David Bellion, Eric Djemba-djemba dan tentu saja, Cristiano Ronaldo di usia 18 tahun. 

Namun segalanya tidak berjalan dengan baik untuk gelandang muda Brasil itu. Setelah tidak dibawa dalam skuat untuk dua laga perdana Liga Inggris 2003/2004 menghadapi Bolton dan Newcastle United. Hingga Kleberson pun memainkan debutnya yang berakhir mengecewakan kontra Wolves. Selanjutnya, dia bahkan mengalami dislokasi bahu dalam kekalahan 1-0 Man United dari Southampton. Yang membuatnya harus absen hingga awal November 2003. Tidak ada yang tahu kala itu, mungkin dislokasi bahu ini menjadi tanda buruk di awal karirnya bersama Man United. 

Pulih Cedera dan Bersinar, tapi Kembali Redup di Manchester United

Setelah pulih cedera dislokasi bahu, Kleberson tiba-tiba bersinar dengan bermain di tiga pertandingan beruntun, dua di antaranya di ajang Liga Champions menghadapi Rangers dan Panathinaikos. Di antara dua laga Liga Champions itu, dia mencetak gol debutnya di pertandingan Liga Inggris menghadapi Blackburn. Gol tersebut membuat istrinya yang sedang hamil dan menonton di tribun, kontraksi dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kleberson pun diizinkan untuk langsung menyusul seusai pertandingan berakhir. 

Beberapa pekan kemudian, penampilan gelandang asal Brasil itu kian bersinar dengan memberikan tiga assist dalam kemenangan Aston Villa dan Manchester City. Kemudian dalam kemenangan 3-2 atas Everton, dia juga menyumbang satu gol untuk Man United. Penampilannya menghidupkan permainan tim dan juga karena mobilitas tinggi di atas lapangan. Namun sesekali dia melakukan kecerobohan dan kurang percaya diri, yang membuat publik menilai dia kesulitan beradaptasi dengan permainan fisik dan kecepatan di Liga Inggris. 

Kecanggungan bertambah buruk ketika Sir Alex Ferguson coba memasangnya di sisi sayap. Kleberson benar-benar makin kesulitan bermain di luar posisi favoritnya, gelandang tengah. Keuletan, penempatan posisi yang sempurna, enerjik dan cerdas yang dia tunjukkan di Piala Dunia 2002 bersama Brasil seperti hilang begitu saja. Penampilan tidak konsisten membuat fans terus berharap bahwa suatu hari Kleberson akan menjadi gelandang kreatif dan agresif sama seperti di Piala Dunia 2002, setiap kali dia tampil oke. Namun di laga berikutnya, dia kembali tampil flop

Golnya ke gawang Everton, menjadi gol kedua dan terakhirnya untuk Manchester United. Di sisa musim perdananya, lebih sering diganggu oleh berbagai macam cedera dan membuatnya semakin terpinggirkan dari skuat Setan Merah. Kleberson versi terbaik sebagai gelandang box-to-box yang bisa mematahkan serangan lawan dan memulai serangan balik untuk timnya, tidak pernah terlihat ketika dia berseragam Manchester United. Musim debut Kleberson yang mengecewakan pun berimbas pada peringkat Man United yang harus berakhir di peringkat ketiga Liga Inggris. Tim yang berhasil memenangkan Piala FA juga tidak membawa Kleberson dalam skuatnya. 

Dengan rumor di awal kedatangannya, yakni untuk menggoda Ronaldinho ke Old Trafford, Kleberson pun akrab dipanggil Xaropinho di akhir musim debutnya bersama Manchester United. Kala itu, fans Man United memahami Xaropinho adalah kartun tikus berkumis yang memang tenar di Brasil sana. 

Ketika liburan setelah akhir musim 2003/2004 pun cedera kembali menghampirinya. Yang membuat Kleberson absen dalam kemenangan Brasil di laga pembuka Copa America atas Chile. Namun, dia pulih dan menjadi starter di semua laga tersisa kompetisi tersebut dan cukup berperan membawa Brasil keluar sebagai juara Copa America 2004. 

Sayangnya, Kleberson kembali lagi mengalami masalah lutut dan membuat dia melewatkan tiga pertandingan pembuka musim 2004/2005 menghadapi Dinamo Bucharest, Chelsea dan Norwich. Di musim keduanya di Old Trafford, dia kembali dimainkan 90 menit pada leg kedua menghadapi Bucharest. Kemudian di Liga Inggris menghadapi Blackburn, Everton dan Bolton, yang satu pun tidak ada yang menarik untuk ditonton dari penampilannya. Dia tidak bersemangat, ceroboh, dan menjadi pemain yang berbeda. Dia pun dicadangkan Alex Ferguson kala MU menghadapi Liverpool dan Tottenham. 

Hati-hati Jika Terpesona Bakat Muda dari Piala Dunia

kleberson
Kleberson ketika membela Brasil. (Pinterest)

Di musim ini, dia lagi-lagi diganggu oleh berbagai macam cedera dan membuat menit bermainnya amat terbatas. Para fans pun mulai menerima bahwa potensi dan bakat gemilang yang dimiliki Kleberson saat memenangkan Piala Dunia 2002 bersama Brasil benar-benar tidak akan pernah terwujud di Old Trafford. 

Musim panas 2004, Ferguson pun mempersilahkan dirinya untuk pergi. Dengan Besiktas menjadi tujuannya selanjutnya setelah hanya 30 pertandingan dimainkan bersama Man United selama dua tahun. Terlepas dari sederet pemain yang menyebabkan Man United kembali gagal juara, melepas Kleberson langsung disambut positif oleh para fans. 

Lelahnya para fans menanti Kleberson yang tak kunjung kembali ke penampilan terbaiknya terbukti di Besiktas, belum genap setahun di Turki, dia menyerah dan pulang kampung ke negaranya Brasil. 

Flamengo menjadi klub besar Brasil yang mau menampungnya, namun kebanyakan klub malah sering meminjamkannya. Termasuk ke klub masa kecilnya, Paranaense, lalu Bahia dan klub MLS Indy Eleven dan Philadelphia Union. 

Cedera dan kurangnya menit bermain di Old Trafford tidak diragukan lagi sudah menghancurkan bakat besar Kleberson. Atau dalam perspektif lain, Kleberson harusnya sadar, bahwa dia tidak pernah memiliki kualitas yang layak untuk bermain di level tertinggi seperti di Liga Inggris. 

Teruntuk klub, pengalaman Man United memboyong Kleberson, seharusnya bisa dijadikan contoh untuk berhati-hati jika terpesona dengan bakat-bakat baru yang muncul di turnamen antarnegara seperti Euro, Copa America atau Piala Dunia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *