Sebelum dikenal sebagai pelatih Atletico Madrid seperti sekarang, Diego Simeone adalah nama dari seorang pemain besar asal Argentina. Ia gelandang dengan tipikal pekerja keras, simbol dari semangat juang Argentina. 

Ya, Simeone memang agresif dan tampak selalu ingin menang dengan segala cara, bahkan jika harus berdarah-darah, dia siap melakukannya. Keberanian dan kekuatan yang amat besar itu, membuat lawan berpikir dua kali ketika berhadapan dengan Simeone di atas lapangan. 

Selain keinginan untuk menang yang besar, terdapat garis tipis antara pujian dan hinaan soal permainan yang dia tampilkan di lapangan hijau. Tapi ini memang risiko untuk pemain besar seperti Simeone, yang satu kesalahan saja, membuat para fans membenci bahkan memakinya. 

Penuh komitmen, berani, heroik, penuh semangat, kejam dan cenderung bermain kotor, adalah gambaran jelas sosok Diego Simeone, alias El Cholo. Memang, tidak sedikit yang mencibirnya, tapi jarang sekali orang menyadari karakteristik keras itu ternyata dipupuk sejak dirinya belia. 

Lahir di Buenos Aires pada 1970 silam, Simeone mendapat kesempatan mengejar mimpinya menjadi pesepakbola profesional kala masuk akademi Velez Sarsfield. Di akademi inilah, Simeone belajar banyak bersama pelatih tim muda Victorio Spinetto. 

Spinetto, sosoknya ketika masih jadi pemain adalah bek langganan Argentina yang terkenal ganas ketika menyapu semua pemain lawan yang masuk daerah pertahanan timnya di pertengahan tahun 1930-an. Sebagai pelatih, karirnya juga cukup mentereng sempat melatih tim nasional Argentina pada akhir 1950-an, 14 tahun melatih tim senior Velez (1942-1956), yang menghabiskan masa tuanya sebagai pelatih tim akademi Velez. 

Di bawah asuhan Spinetto, Simeone remaja terus ditanamkan etos kerja pemenang di akhir pertandingan. Kegagalan adalah hal yang diharamkan dan senyum hanya boleh disunggingkan ketika tim berhasil menang. Sebuah pernyataan Simeone “Kerja keras, tidak bisa ditawar lagi,” adalah sebuah cerminan yang dia dapatkan selama menjadi pemain khususnya lewat asuhan Spinetto. 

Diego Simeone ketika membela Argentina senior.

Julukan El Cholo untuk Diego Simeone

Ketika sudah masuk skuat senior Velez, Simeone kemudian diberi julukan El Cholo dikarenakan gaya bermainnya yang terkenal gigih dan tidak kenal ampun kepada lawan-lawannya. 

Masa-masa ketika Simeone muncul dan mulai menjadi pemain hebat, dianggap sebagai era keemasan sepak bola Argentina. Dan kurang dari setahun setelah menonton Argentina memenangkan trofi Piala Dunia 1986 di Meksiko – yang terkenal dengan tangan Tuhan milik Diego Maradona, Simeone yang masih 17 tahun memainkan debutnya di skuat senior Velez. 

Pada musim perdananya, kualitas Simeone langsung terbukti dengan langsung menjadi pemain kunci di lini tengah. Dia mencatat 28 penampilan dan cetak empat gol di kompetisi tertinggi Argentina. Sejak awal, memang dia memperkenalkan gaya bermain agresif dan enerjik, namun semakin dewasa, kualitas tekniknya juga cukup oke. 

Diklaim sebagai gelandang box-to-box, Simeone memang bisa dibilang serba bisa, mulai dari menjegal, melewati pemain, mematahkan serangan lawan dan memberi keleluasaan untuk lini serang timnya bermain lebih ofensif. Mudah saja jika menyebut Simeone tukang jegal lawan, tapi ada banyak hal dari permainannya, bahkan di usia yang masih begitu muda. 

TIga musim pertama di skuat senior Velez, dia sudah mendapatkan debutnya bersama Argentina senior pada 1988. Tepat dua tahun sebelum dia akhirnya melancong ke Eropa di tahun 1990. Pisa, memang bukan klub bernama besar, tapi mereka berani memberi Simeone kesempatan untuk unjuk gigi di kasta tertinggi sepak bola Italia, yakni Serie A Italia. 

Namun harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan, Pisa harus terdegradasi ke Serie B di akhir musim perdana Simeone di Italia. Mimpinya bermain di Serie A Italia pun harus dikubur karena setelah Pisa gagal promosi di musim berikutnya, dia dipinang Sevilla pada 1992. Di klub Spanyol inilah, Simeone bertemu dengan pelatih yang senegara dengannya, Carlos Bilardo. 

Kiprah Simeone di Atletico Madrid dan Inter Milan

diego simeone inter milan2
Diego Simeone ketika membela Inter Milan.

Billardo sebelumnya pernah melatih Argentina, bahkan berjasa ketika negara tersebut menjuarai Piala Dunia 1986. Dia juga yang memberikan debut untuk Simeone di skuat Argentina pada 1988. Namun gaya bermain Billardo cenderung mengedepankan estetika, ketimbang bermain grasak-grusuk seperti yang sudah tertanam sejak dini dalam diri Simeone. Akhirnya, dia hanya bertahan dua tahun saja di Sevilla, kemudian bergabung dengan Atletico Madrid pada tahun 1994. 

Bermain untuk Atletico Madrid, Simeone mungkin menemukan kecocokan yang selama ini belum pernah ditemukan sejak merantau ke Eropa. Kala itu, mungkin sampai sekarang, Atletico memang terus ada di bawah bayang-bayang rival sekotanya Real Madrid. Yang selalu menang di lapangan hijau dan juga kekuatan finansial. Dengan gaya bermain Simeone yang tabrak sana-sini, enerjik dan senang bermain kasar, apalagi ketika bertemu Real Madrid, tentu saja para penggemar Atletico langsung jatuh cinta. 

Puncaknya adalah ketika Barcelona skuat asuhan Johan Cruyff yang mendominasi liga, mengalami penurunan dan Atletico Madrid menyabet gelar Liga Spanyol dan Copa del Rey di musim 1995/96. Kala itu, Atleti dilatih oleh pelatih Serbia Raddy Antic. 

Meski masih 24 tahun kala itu, Simeone seolah menjadi jantung permainan Atletico Madrid asuhan Antic. Bahkan dari posisinya sebagai gelandang, dia memimpin para pemain yang usianya rata-rata lebih tua darinya. Umpan-umpan terobosan khas Simeone dari lini tengah, menjadikan dia dieluk-elukkan khususnya oleh para penyerang Atleti kala itu. 

Hingga akhirnya, dia memutuskan pergi dari Atletico dan kembali ke Italia untuk gabung Inter Milan pada musim panas 1997. Kembalinya ke Italia menjadi keputusan tepat dengan Simeone menjadi kunci kesuksesan Inter Milan dan nantinya juga akan merapat ke Lazio. 

Musim perdananya, Inter sedang berada di bawah asuhan Luigi Simoni, pelatih yang mementingkan hasil pertandingan sama seperti dengan Spinetto dan Bilardo. Kembalinya Simeone ke Italia sendiri sudah menciptakan evolusi besar dalam gaya bermainnya. Dia menjelma sebagai pemain yang lebih disiplin secara taktis, jarang melakukan jeda ketika menguasai bola. 

Gaya baru ini yang jadi latar belakang kenapa Lazio merekrut Simeone pada tahun 2000. Yang nantinya, di Lazio, Simeone berhasil menyumbangkan Scudetto untuk kedua kalinya dalam sejarah klub. Cabut dari Lazio pada 2003, Simeone sempat kembali ke Atletico Madrid dan bermain di sana dua musim. Hingga akhirnya, dia gantung sepatu kala membela klub Argentina Racing Club. Tidak lama setelah pensiun, dia pun langsung mencoba peruntungan sebagai pelatih di tim akademi Racing Club. 

Simeone memang punya karir yang cukup luar biasa, bersama Argentina, dia berhasil mencatat 103 caps, penampilan terbanyak kelima dalam sejarah tim nasional mereka. Raihan trofinya yakni Copa America dan Piala Konfederasi FIFA, membuat para fans Argentina mengingatnya gelandang kasar yang identik. 

Kini, kiprahnya sebagai pelatih juga cukup mentereng khususnya sejak mengasuh Atletico Madrid pada 2011. Sudah 11 tahun melatih Atleti, dia mempersembahkan dua gelar Liga Spanyol, dua kali juara Liga Europa, satu Copa del Rey dan penghargaan individu sebagai Pelatih Terbaik Dunia tahun 2016 lalu. 

Pahlawan untuk negara dan klub-klub yang dibelanya, tapi penjahat untuk para lawannya. Diego Simeone, El Cholo!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here