by

Mengenang Adriano, Si Kaisar Sepak Bola yang Patah Hati karena Ayah Meninggal

Adriano, Adriano Brasil, Adriano tendangan geledek, apapun sebutannya, tentu kamu ingat striker asal Brasil yang mengguncang dunia sepak bola bersama Inter Milan. Namun semua cahaya itu seketika redup ketika sang ayah meninggal dunia. 

Ya, dia adalah Adriano, yang sempat dikenal sebagai salah satu striker terbaik yang kemudian menjadi enigma alias sosok misterius dalam sejarah sepak bola abad ke-21. Di saat dia menyilaukan dunia dari atas lapangan, pemain bernama lengkap Adriano Leite Ribeiro seolah punya magis besar di sepatunya. 

Disokong fisik yang menjulang hingga 189 cm, yang membuatnya unik adalah kecepatan untuk pemain-pemain jangkung, persis seperti kendaraan besar dengan bahan bakar diesel melihatnya adu kecepatan dan menembus pertahanan lawan. Tidak hanya itu, kaki kirinya juga mematikan yang membuat para lawan khususnya di pertahanan, bergidik ngeri ketika Adriano datang menghampiri. 

Dia selalu membuat penonton terpukau ketika menggiring bola mengandalkan kecepatannya di atas rata-rata. Menggeser bola dari kaki kanannya ke kaki kiri sebelum melepaskan tembakan meriam, yang benar-benar bak senjata perang di lapangan hijau. 

Mungkin, yang kurang dari Adriano hanyalah sifat temperamennya yang membuatnya seperti pemain yang belum matang. Tapi di luar temperamental itu, kualitas untuk menjadi seorang striker ganas, hampir semua atribut dia miliki. 

Adriano, Kaisar Sepak Bola yang Lahir dari Lingkungan Miskin

Brasil memang bukanlah negara maju seperti Inggris, Jerman, Prancis atau bahkan Italia. Jadi, banyak bakat-bakat sepak bola yang lahir dari lingkungan miskin, termasuk Adriano yang kemudian menjadi kaisar di dunia sepak bola. 

Lingkungan miskin Brasil yang sarat akan kriminalitas dan kelaparan, orang tua Adriano sudah mendukung Adriano remaja untuk menghabiskan masa kecilnya bermain sepak bola di jalanan. Dia juga belajar hidup keras di kampung miskin Cruzeiro di provinsi Rio de Janeiro, yang akrab dengan kejahatan, obat-obatan terlarang hingga budaya korupsi mendarah-daging di pemerintahan lokal. 

Tumbuh kembang di lingkungan seperti itu membuat Adriano kecil terancam jatuh ke lubang kekelaman. Dan seperti pesepakbola Brasil lainnya, sepak bola menjadi jawaban untuk keluar dari kemiskinan. Sepak bola menjadi rute favorit mereka yang tumbuh tanpa berkecukupan untuk menuju kekayaan, ketenaran, kehormatan.

Lewat lapangan hijau dan sepatunya, pemain yang tumbuh dalam kondisi miris ini menggabungkan semangat dan keputusasaan mereka untuk mengangkat derajat keluarga dan teman-temannya, memang sudah menjadi pola umum di Brasil. Berbeda dengan seseorang yang lahir dari tingkat kekayaan yang cukup, mereka bisa mempelajari bagaimana caranya membelanjakan uangnya dan juga menabung. 

Tapi Adriano, yang berasal dari jalanan, seringkali tidak mengerti cara tepat membelanjakan uang mereka dengan efektif. Dia memulai karirnya di sepak bola bersama klub Brasil, Flamengo di usianya yang baru menginjak 16 tahun. Karena bakatnya yang menonjol, dia hanya butuh satu tahun untuk promosi ke skuat senior. 

Bahkan dia hanya perlu menunggu penampilan profesionalnya yang kedua untuk mencetak gol perdananya ke rival Flamengo, Sao Paulo. Di musim perdananya setelah teken kontrak profesional, tahun 2001, dia mampu mencetak 10 gol dari 24 penampilannya di liga domestik Brasil. Sontak, dia pun langsung dikenal sebagai striker muda enerjik di tanah Brasil. Dengan tinggi badan yang di atas rata-rata, dia mampu menggabungkannya dengan kecepatan eksplosif, keseimbangan dan semangat luar biasa setiap kali bermain di depan gawang lawan. 

adriano kaisar milano
Adriano ketika masih membela Inter Milan di laga menghadapi AC Milan.

Bahkan kala itu, media langsung melabeli Adriano dengan julukan The Next Ronaldo – julukan yang sebenarnya berbahaya untuk pemain yang masih belia sepertinya. Setelah musim 2000/2001 – musim perdananya sebagai pemain profesional – selesai, sorotan dan perbincangan media, selalu membicarakan sosoknya yang masih muda. Hingga akhirnya, Inter Milan datang. 

Ya, klub raksasa Serie A Italia yang kala itu cukup rutin memenangkan Scudetto, tertarik untuk merekrutnya di musim panas 2001 silam. Namun sayang, musim perdananya di Inter Milan pada di musim 2001/2002 tidak berjalan sesuai ekspektasi. Pada Januari 2002, Inter melepasnya ke Fiorentina dengan status pinjaman. Akhir musim 2001/2002, dia kemudian dibeli permanen oleh Parma dan bermain di sana hingga tahun 2004. Bersama Parma, dia benar-benar menjadi rising star di sepak bola Italia, mencetak banyak gol, kecepatan berlarinya kembali terlihat, membuat Inter Milan menyesal telah melepasnya. 

Pada musim panas 2004, Inter pun langsung memulangkannya ke San Siro dengan mahar sebesar 23,40 juta euro. Periode keduanya bersama Inter benar-benar berjalan sukses, hingga dirinya dijuluki sebagai ‘Sang Kaisar Milano’. Saat itu, bek-bek legendaris Italia masih aktif bermain, namun tidak ada yang mampu membendung Adriano di depan gawang. 

Bahkan Ronaldo yang dijuluki Il Fenomeno langsung tenggelam begitu saja dengan kemunculan Adriano bersama Inter Milan. Namun ketenaran di sepak bola tentu berbanding lurus dengan tekanan, yang membuat Adriano seringkali kesulitan mengatasinya di luar lapangan. 

Ayah Meninggal, Sang Kaisar Adriano Patah Hati

Tidak dapat mengatasi tekanan dan sorotan di luar lapangan, karier Adriano diterpa badai kencang ketika kabar buruk sang ayah meninggal dunia di usia 44 tahun. Ya, Adriano yang dikenal punya potensi besar bahkan diyakini mampu melampaui Ronaldo, kini tidak lagi. 

Adriano mendadak berubah menjadi striker yang bisa dibilang merusak dirinya sendiri dengan berbagai macam cara, mulai dari alkohol, makanan tidak ideal untuk atlet hingga obat-obatan terlarang. Pada 2004 silam, dia didiagnosa dokter mengalami depresi berat karena rasa dukacita yang mendalam di luar lapangan. Uniknya, di dalam lapangan, dia malah makin gacor dalam menjebol gawang lawan. 

Akhir musim 2004/2005, bisa dibilang menjadi tahun terbaik dalam karirnya dengan mencetak 40 gol di semua kompetisi. Hal itulah yang membuat Inter Milan, memberinya kontrak baru dengan kenaikan gaji dan berbagai bonus lainnya untuk striker produktif seperti dirinya. Kontrak besar kadang membuat seorang pemain dituntut tidak hanya bermain, tapi juga menjadi ikon klub alias perilakunya di luar lapangan juga jadi sorotan publik. 

Namun bisa dibilang kontrak baru ini blunder dari Inter Milan yang tutup mata akan kondisi kejiwaan Adriano. Ya, sang ayah sudah meninggal dunia, yang ternyata sosok itu sangat berarti bagi Adriano dan juga karier sepak bola. Sang striker pun merasa kosong dan berusaha mengisi jiwanya yang kosong dengan segala sesuatu yang dilarang untuk dilakukan para atlet profesional. 

Benar saja, perilaku di luar lapangan berimbas pada performanya di atas lapangan. Pemain yang sempat dijuluki Kaisar Milano ini terpuruk. Dia bahkan tidak hanya berselisih dengan pemain lawan, wasit, staf Inter Milan pun sempat diajaknya gelut di kantor klub.

Keterpurukan ini terus berlangsung hingga tahun 2007, Adriano sudah benar-benar patah hati. Depresi, tidak bisa lepas dari zat narkotika hingga alkohol setiap hari, belum lagi spekulasi tentang masa depannya di Inter, dengan West Ham United dan Manchester City dikabarkan kala itu mengantre tanda tangannya. 

Tapi, West Ham dan Manchester City tidak pernah serius menunjukkan minatnya pada Adriano. Bahkan klub-klub Eropa menyatakan tidak berminat karena perilaku sang pemain di luar lapangan. Akhirnya Inter meminjamkannya ke Sao Paulo, klub raksasa Brasil hitung-hitung membantu sang pemain untuk lepas dari depresi. Benar saja, hanya dari 19 penampilan bersama Sao Paulo, Adriano sukses mencetak 11 gol. Namun, perilakunya di luar lapangan semakin tidak terkendali di Brasil, dia sering berpesta ke klub malam dan juga tidak sekali dua kali absen dari sesi latihan klub. 

adriano sad ending
Tidak ada Happy Ending untuk karier Adriano.

Tidak Ada Happy Ending untuk Adriano

Pada akhirnya, sisi psikologis yang berbicara. Adriano bukan lagi striker yang digadang-gadang bisa melampui Ronaldo Brasil, dia hanya seorang pria yang jiwanya hancur lebur dan hanya ingin mengenang sang ayah yang meninggal dunia. Ketika Inter Milan memulangkannya ke Italia, dia benar-benar menjadi pria yang berbeda. 

Hingga pada 2009, Inter melepasnya karena perilakunya di luar lapangan hanya membuat manajemen klub kelimpungan. Flamengo, klub masa kecilnya, akhirnya menampungnya dengan status bebas transfer, meski hanya memberi kontrak satu tahun. Namun, dengan diagnosa kejiwaan yang sudah dijelaskan, Adriano ternyata masih mampu mencetak 19 gol untuk klub masa kecilnya itu. Sangat disayangkan, perilakunya di luar lapangan tidak membaik, dia sering mewarnai hari-harinya dengan berselisih dengan staf klub, pers bahkan juga sering berurusan dengan hukum. 

“Ayahnya sangat menjaganya dan membuatnya tetap waras di atas dan luar lapangan. Namun di awal musim 2004/05, ayahnya meninggal. Saya melihatnya menangis, membanting telepon dan berteriak sejadi-jadinya. Sejak hari itu, saya dan Massimo Moratti berkomitmen untuk menjaganya seperti saudara kandung,” ucap legenda Inter, Javier Zanetti dikutip dari Goal. 

“Setelah telepon dari Brasil (ayahnya meninggal dunia), dia tidak pernah menjadi sosok yang sama. Kami tidak bisa menyembuhkan depresinya. Saya merasa itu sebuah kegagalan kami sebagai sebuah keluarga untuknya,” sesal Zanetti. 

Torehan 51 gol hanya dalam kurun waktu tiga tahun, membuat AS Roma merasa Adriano sudah kembali ke performa terbaiknya. Tapi sayang, kembali ke Italia hanya memperparah keadaannya dengan kontrak diputus setelah hanya 7 bulan dan tampil cuma 8 kali di 2010. 

Di tahun 2011, Corinthians mencoba peruntungan merekrutnya. Tapi tidak lama setelah bergabung, dia mengalami cedera robek ligament, yang membuat karirnya semakin hancur. Sejak 2012 sampai 2016, dia pindah-pindah sebanyak tiga klub, kembali ke Flamengo, sempat ke Atletico Paranaense bahkan melancong hingga Miami United. Namun secara psikologis, dia sudah tidak lagi cinta dengan sepak bola. Pada 2020 lalu, dia mengklarifikasi keadaannya tersebut. 

“Saya merasa sendiri, sedih dan depresi selama di Italia. Saya merasa senang hanya dengan minum alkohol, saya melakukannya setiap malam. Saya tidak bisa berhenti (dari alkohol) dan Inter memang harus melepas saya,” ucapnya menyesali perilakunya sebagai pemain dulu kala.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *