Samuel Gbenga Okunowo
Samuel Gbenga Okunowo, putra terbaik dari keluarga miskin asal Nigeria yang sempat bela Barcelona namun terjun bebas ke klub amatir Liga Inggris.

Kisah Samuel Gbenga Okunowo, dari Barcelona ke Klub Non-Liga Waltham Forest

Posted on

Dia pernah tergabung dalam skuat yang dihuni para pemain seperti Xavi, Luis Figo, Rivaldo dan Luis Enrique, namun Gbenga Samuel Okunowo tidak pernah berada di level mereka selama berseragam Barcelona. Pemain asal Nigeria yang ramah ini, yang juga pernah bermain untuk Benfica dan di tim nasional, bahkan sampai sekarang, dapat berjalan di mana saja di dunia dan tidak ada yang akan meliriknya. Alias, dia tidak terkenal. 

Dia lahir 1 Maret 1979 di Kota Ibadan Nigeria dan terlahir untuk bermain sepak bola. Terbukti langkah pertamanya sudah dimulai sejak dia mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak. Ketika anak-anak lain tertarik pada aktivitas lain, Okunowo mendapatkan hiburan dan kenyamanannya dengan bola di kakinya. Kekuatannya sangat menarik dan seringkali, dia membawa bola ke kamarnya untuk tidur bersamanya. Bahkan kebiasaan ini berlangsung hingga dia menamatkan pendidikan sekolah dasar. Tentu itu jadi bahan perbincangan para orang tua lain, namun ayah dan ibu Gbenga sangat senang karena putra mereka punya hobi menyalurkan semua energi masa kecilnya. 

Tentu saja, karir profesional sebagai pesepakbola masih jauh dari pikiran banyak orang, bahkan Gbenga sendiri. Namun dia menyadari bahwa dirinya cukup baik dibanding teman-temannya. Jam latihan yang rutin di lapangan darurat, yang dibentuk dengan tiang bambu sebagai gawangnya, ternyata tidak sia-sia. Ketika membela sekolahnya di turnamen lokal, dia dipantau oleh Liberty Boys Club, sebuah tim yang punya reputasi yang menyadarkan semua orang bahwa Gbenga bukanlah pemain biasa. Dia seorang bek kanan yang kuat dan cepat, sangat jarang ada yang mengalahkannya di sisi sayap. Kecepatan luar biasa, seringkali membuatnya mendominasi permainan dan leluasa membantu serangan tim yang sedang dibelanya. 

Exide Sparkers, di antara banyak pemain lain di atas lapangan, telah menyadari bakat Gbenga, klub yang berada di divisi lebih tinggi. Ketertarikan mereka menjelaskan apa yang tadinya hanya sebuah hobi menyenangkan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih serius. Pada usia 15 tahun, sekolah menjadi hal yang sangat penting bagi keluarga Okunowo yang kurang mampu, tapi dengan klub di divisi lebih tinggi menjelaskan tentang putra mereka, membuat orang tuanya percaya bahwa dia layak menerima kesempatan untuk meraih kesuksesan dalam olahraga ini. 

Seperti yang diduga, nilai-nilainya di sekolah menurun namun performanya di atas lapangan tidak pernah terjadi. Tepat sebelum Piala Dunia U-17 1995 di Ekuador, dia telah menjadi perhatian nasional dan kebangkitannya tidak bisa lebih baik lagi ketika dipilih untuk bergabung dengan tim nasional U-17. Turnamen ini akhirnya gagal total, tapi ada banyak hal positif yang bisa diambil. Shooting Stars Sports Club dari Liga Profesional Nigeria hanya tertarik pada yang terbaik dan pada usia 16 tahun, dia memenuhi syarat tersebut. Performanya konsisten dan sudah tampil di tingkat tinggi yang mengubahnya menjadi pemain luar biasa dan juga pahlawan lokal. 

Saat itu, orang-orang datang ke pertandingan untuk menontonnya, ingin melihat seperti apa pahlawan lokal itu. Bagi mereka yang paham sepak bola, tentu akan dengan jelas melihat remaja laki-laki itu memiliki bakat dan juga kondisi fisik lebih tinggi dari yang lain. Dia juga mampu selalu berada dalam kondisi fisik yang prima, tidak pernah sekali pun melewatkan pertandingan karena cedera. Meski hampir sedekade kemudian, cederalah yang menentukan karirnya. Dia pun terbang jauh di usia remaja, tepat usia 18 tahun oleh tim nasional U-20 Nigeria, keputusan paling penting dalam karirnya. Piala Meridian UEFA-CAF 1997 di Portugal, Okunowo jelas menjadi peran utama dari skuat Nigeria. Selain mereka, Afrika diwakili oleh Ghana, Pantai Gading dan Guinea, sementara dari Eropa ada negara Yunani, Prancis, Prancis dan tuan rumah Portugal. 

Proses Gbenga Samuel Okunowo Gabung Barcelona

Samuel Gbenga Okunowo
Samuel Gbenga Okunowo, sempat jadi andalan Louis van Gaal, namun tiba-tiba semua berubah.

Meski Super Eagles yang masih muda hanya akan lolos di posisi kedua dari grup mereka, kemenangan 2-0 atas Portugal membawa mereka ke babak final menghadapi Spanyol yang punya Xavi di skuat U-20 kala itu. Sebuah pertandingan sengit dengan lima gol, berhasil dimenangkan Nigeria dengan skor 3-2, Okunowo menjadi salah satu yang terbaik di atas lapangan. Staf Barcelona yang berpura-pura menonton pertandingan itu karena ada Xavi di skuat Spanyol, sudah tahu banyak hal tentang pemain-pemain muda seluruh dunia. Salah satunya adalah Okunowo yang sudah membuat mereka terkagum-kagum. Satu jam usai final dimenangkan Nigeria, staf Barcelona tersebut memperkenalkan diri dan mengundang Okunowo untuk menjalani uji coba selama seminggu. 

Dengan keluarga yang masih mendukungnya, ini merupakan keputusan yang mudah dan Gbenga pun pergi ke Katalunya menjalani uji coba seminggu di La Masia, akademi terkenal yang berada di samping Camp Nou. Sebelum waktu seminggu yang diberikan habis, keputusan telah dibuat karena gerakan-gerakan dan kontribusi Gbenga di atas lapangan. Barcelona akhirnya membayar Shooting Stars sebesar 14 ribu poundsterling untuk mendapatkan jasa Okunowo. Tidak lama kemudian, Xavi dengan ramah memperkenalkan diri, yang mana keduanya pernah bertemu di final ketika Spanyol kalah dari Nigeria beberapa minggu sebelumnya. 

Masuk ke tim B lebih dulu, pemain asal Nigeria ini hanya membutuhkan waktu satu musim untuk promosi ke skuat senior. Louis van Gaal menjadi pelatih pertama yang memberinya nomor punggung untuk musim 1997/1998. Dia melakukan debutnya di awal musim berikutnya, Agustus 1998 menghadapi Racing Santander, bermain selama 76 menit dalam laga yang berakhir imbang 0-0 sebelum digantikan Roger Garcia. Jika sebelum laga ada yang memprediksi dia akan gugup karena bermain di sisi yang sama seperti Philip Cocu dan Luis Figo, Okunowo tidak menunjukkannya sama sekali. Awal yang baik untuknya di Spanyol. 

Dengan Van Gaal yang mengutak-atik taktik dan susunan pemain, menggantikan Figo pada menit 82 menghadapi Extremadura merupakan satu prestasi tersendiri bagi Gbenga dalam laga kedua yang lebih singkat. Dia kembali menjadi pemain pengganti di laga El Clasico pertamanya di Santiago Bernabéu, dengan masuk menggantikan Bolo Zenden, dan yang lebih penting lagi, dia sudah tampil tiga kali tanpa kekalahan. 

Faktanya, Ia tidak akan berada di tim yang kalah sampai partai kesembilan tapi kemudian selalu bermain dalam empat laga yang berujung kekalahan berturut-turut. Dengan 21 penampilan atas namanya, termasuk enam sebagai pemain pengganti, ada satu momen yang sangat menonjol. Menjaga Dwight Yorke dan Andy Cole dalam pertandingan Liga Champions menghadapi Manchester United yang berakhir imbang 3-3, menjadi salah satu pertandingan terbesar dalam karirnya. 

Ini adalah akhir yang wajar untuk musim pertama yang menjanjikan banyak hal. Namun Van Gaal punya waktu yang cukup untuk mengevaluasi timnya selama musim panas. Mengingat bias Belanda di tim Barca kala itu, jelas bahwa sang pelatih lebih memiliki Michael Reizeger di pos bek kanan. Yang artinya tidak ada tempat untuk Gbenga, yang tidak punya pilihan selain menyetujui keputusan klub meminjamkannya ke Benfica. 

Karirnya Merosot Tajam dan Sempat Terkena Musibah

Samuel Gbenga Okunowo
Samuel Gbenga Okunowo ketika membela Barcelona di panggung Liga Champions.

Dengan statistik kurang dari 10 penampilan di klub Portugal, cukup adil mengatakan bahwa segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan oleh siapa pun, sehingga Van Gaal memanggil kembali sang pemain setelah ia mewakili Nigeria di Olimpiade Sydney pada tahun 2000. Dengan tekad untuk memperjuangkan tempatnya,, Gbenga mengalami benturan keras yang membuat lututnya terluka parah hingga harus dioperasi. Butuh waktu lama untuk pulih sehingga ia kembali dipinjamkan, kali ini ke tim kasta kedua Spanyol, Badajoz.

Karena kesulitan membuktikan dirinya sudah pulih sepenuhnya, dia tidak memainkan satu pertandingan pun yang membuat Barcelona akhirnya memutuskan untuk menjualnya ke tim Yunani, Ionikos. Pada titik inilah Gbenga menyadari kenyataan pahit dari kehidupan sebagai pesepakbola profesional. Dengan lutut yang bisa dikatakan ‘hancur’, Gbenga tidak pernah bisa kembali ke kebugaran terbaiknya untuk membuat kesan yang nyata di Negari Para Dewa. Enam tahun berikutnya, ia mencoba peruntungan ke negara-negara seperti Maladewa, Albania, dan Ukraina. Belum lagi Dinamo Bucharest, Vilanova del Cami dari liga amatir Spanyol, Odra Wodzislaw dari Polandia dan Northwich Victoria dan Waltham Forest dari non-liga di Inggris, kira-kira di kasta kedelapan Liga Inggris. 

Sejak ia gabung dengan Ionikos hingga meninggalkan Waltham Forest, karirnya sangat miris, dengan hanya kurang dari 20 pertandingan dalam kurun delapan tahun. Sebuah keajaiban bahwa Sunshine Stars yang berani ambil risiko pada pemain 33 tahun dan punya lutut seperti kakek-kakek. Tapi dia tetaplah pemain yang menarik perhatian di negara kelahirannya. Dia seorang putra luar biasa dari keluarga yang miskin. Di klub kasta tertinggi Nigeria itu, Ia mencatat 30 penampilan sebelum akhirnya pensiun pada usia 34 tahun. 

Ketika karir sepak bolanya meredup pada tahun 2012, rumahnya di Ibadan, kampung kelahihrannya terbakar dan Gbenga kehilangan segalanya. Tidak ada harta benda yang tersisa, termasuk piala, kenangan, medali dan dokumen-dokumen soal karirnya hilang menjadi abu. Belum lagi paspor, pakaian dan barang-barang berharga di hidupnya, semua ludes. Beruntung, Barcelona siap membantu mantan pemain mereka setelah warganet memberinya perhatian lebih pada kondisi memprihatinkan Gbenga. Pada saat dia membutuhkan, doanya dijawab. 

Kini, situasinya sudah menjadi lebih baik, menjadi seorang pemandu bakat yang terkenal dengan mata tajam untuk melihat bakat dan berfokus membawa superstar Nigeria ke Eropa. Dia memang belum menjadi superstar yang mewakili negaranya di Eropa, tapi semangat dan niatnya untuk sukses akan menjelaskan Gbenga Samuel Okunowo adalah nama yang akan lebih sering kita dengar dalam sejarah sepak bola. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *