Anderson
Anderson, salah satu pemain berbakat asal Brasil yang abadi sebagai wonderkid.

Anderson, Gelandang Berbakat Emas yang Abadi sebagai Wonderkid

Posted on

Blackpool tim promosi menghadapi partai berat di matchday terakhir Liga Inggris 2010/2011 silam, saat bertamu ke Old Trafford, markas Manchester United. Di sinilah publik dunia mulai mengenal sosok Anderson, wonderkid dari Brasil, yang ternyata label tersebut abadi hingga kariernya. Kenapa bisa abadi sebagai wonderkid? Kita akan bahas dalam artikel ini.

Kembali ke pertandingan terakhir Liga Inggris 2010/2011, di mana Blackpool mengusung target menang di Old Trafford guna menyelamatkan diri dari jeratan degradasi. Mereka sempat memimpin 2-1, hingga terjadilah momentum bagi pemain muda berusia 23 tahun. Bernama lengkap Anderson Luis de Abreu Oliveira.

Penampilannya di laga terakhir Liga Inggris saat itu benar-benar memukau. Visinya sebagai gelandang serang membuat hampir semua orang terkesan. Dia mencetak gol serta mengirimkan umpan terobosan yang diselesaikan oleh Michael Owen. Man United menang 4-2 atas Blackpool di akhir pertandingan. Blackpool harus terdegradasi dan mungkin, beberapa dari staff klub melihat Anderson sebagai biang keladinya.,

Masa-masa seperti itu adalah momen di mana public sepak bola dunia melihat Anderson sebagai salah satu wonderkid terpanas. Dia mengakhiri pertandingan dengan penampilan bagus, dan tentunya mendapatkan medali emas di mana Man United juga dinobatkan sebagai juara Liga Inggris musim 2010/11. Blackpool yang degradasi sejak kekalahan di Old Trafford terus memburuk, namun entah kenapa, kok Anderson ikutan menurun penampilannya.

Direkrut pada Juli 2007 dari Porto, potensi sang pemain begitu besar sehingga izin kerjanya yang awalnya ditolak diberikan karena alasan bakat luar biasa yang akan ia bawa ke Liga Inggris. Dinobatkan sebagai pemain terbaik di Piala Dunia U-17 pada tahun 2005 punya peran dalam lolosnya visa kerja di Britania Raya. Anderson secara luas dipandang sebagai bintang yang akan segera meroket.

Lahir di kampung halaman Ronaldinho di Porto Alegre, Anderson memulai karirnya dengan tim lokal Grêmio. Jalur karier serupa muncul saat dirinya memutuskan lanjut ke Eropa, meski dia gabung ke Manchester United, sementara Ronaldinho ke PSG ketika mendarat di Benua Biru. Terus dibanding-bandingkan dengan tokoh tersohor seperti Ronaldinho, Anderson mengeluarkan pesan yang membumi: “Ronaldinho adalah Ronaldinho, Anderson adalah Anderson.” Itu adalah pernyataan sederhana, tetapi juga membawa makna yang lebih dalam.

Menapaki Karier Junior Anderson yang Gemilang

Pada usia 14 tahun ayahnya meninggal, dengan posisi Anderson sebagai anak tertua menempatkan dia sebagai kepala rumah tangga. Sementara itu, banyak teman masa kecilnya beralih ke narkoba dan kekerasan, meninggal di usia remaja. Lingkungan sulit khas Brasil yang mengharuskan Anderson untuk belajar siapa dirinya sejak usia belia. Semua uang yang diperolehnya melalui sepak bola dikirim ke rumah untuk membantu tiga saudara kandungnya dan ibunya Doralice, yang bekerja dua pekerjaan untuk mendanai bakat anaknya.

Sebagai hasil dari ketekunan ibunya, Anderson melakukan debut tim utama di usia 16 tahun, mencetak tendangan bebas melawan rival sengit Gremio, yakni Internacional. Terdegradasi di musim pertamanya, ia akan terus mencetak gol ke gawang lawan-lawannya yang membantu Grêmio kembali ke papan atas, dalam pertandingan yang timnya berakhir dengan tujuh pemain. Tidak lama dari penampilan gemilangnya di usia sebelia itu, bakatnya pun tercium sampai ke Eropa. Pada 2005, dia pun memutuskan pergi ke panggung yang lebih besar, mimpi yang diinginkan oleh semua pesepakbola junior Amerika Latin. Yakni Benua Eropa bergabung dengan FC Porto.

Namun Aturan FIFA melarangnya pindah hingga berulang tahun ke-18, yang berarti satu tahun lagi saat itu. Menyiasati agar tidak melanggar aturan, ibunya pindah dan Anderson berhasil ke Eropa karena alasan keluarga. Secara resmi pindah ke Porto pada Januari 2006, manajer Co Adriaanse dengan sengaja meninggalkannya dari skuad untuk menghindari sang pemain masuk radar klub-klub top Eropa lainnya tentang kemampuannya dan memastikan satu musim penuh dengan pemain Brasil itu.

Akibatnya, ia hanya bermain lima kali dalam musim perdananya, meskipun langsung meroket di musim berikutnya. Mengenakan nomor punggung 10 yang memang bergengsi, Anderson mencetak gol dalam kemenangan 3-0 di partai pembukaan musim atas Vitória Setúbal, juga mencatatkan assist dalam dua pertandingan liga pertamanya. Pada bulan September 2006 ia melakukan debutnya di Liga Champions, sebuah peningkatan yang luar biasa dalam kariernya.

Hingga akhirnya peningkatan itu harus terhenti karena tekel kelas dari bek Benfica, Kostas Katsouranis pada bulan Oktober. Patah kaki yang dialami Anderson membuatnya absen hingga tahun baru, dan dia baru kembali bisa bermain pada April 2007. Dia mengakhiri musim dengan tiga gol dan lima assist dari 19 pertandingan. Anderson sadar dia harus melakukan yang lebih agar bisa memenuhi potensi besarnya.

Banyak yang kagum dengan bakat anak muda itu, bukan hanya dribblingpassing, dan tekniknya, tetapi kemampuannya untuk mendikte tempo pertandingan. Begitu juga dengan kecepatan larinya dan kekuatan fantastis dari tendangan seorang pemain yang tinggi badannya hanya lima kaki tujuh inci ini. Minat pertama dari klub besar muncul dari Jose Mourinho yang saat itu sudah melatih Chelsea. Hubungan dekat Mourinho dengan agen Anderson, Jorge Mendes, dan juga bekas pelatih Porto, membuat kepindahannya ke Manchester United benar-benar mengejutkan.

Sir Alex Ferguson mengirim saudaranya Martin untuk menonton beberapa pertandingan, dan tanggapannya adalah rekomendasi untuk mengontraknya. Sir Alex langsung tanpa ragu-ragu meyakinkan manajemen Setan Merah untuk menghabiskan hampir 20 juta poundsterling untuk seorang remaja. Begitulah tingkat pendakiannya sehingga manajer Brasil Dunga memasukkan pemain berusia 19 tahun itu ke dalam skuadnya untuk Copa América 2007.

Bergabung ke Manchester United, Namun Semua Meredup

Anderson
Anderson, salah satu pemain berbakat asal Brasil yang abadi sebagai wonderkid.

Menyusul keberhasilan menjuarai Copa America 2007 di Venezuela, Anderson kembali ke Eropa siap beraksi. Kematian ayahnya seolah mempersiapkan dirinya untuk hidup di Negeri Orang, tepatnya di Kota Manchester. Sang pemain pernah mengatakan kepada The Guardian bahwa dirinya hidup bak seseorang yang berusia 24 tahun saat masih 15 tahun. Kedewasaan seperti itu membuat Ferguson terkesan, dengan pelatih asal Skotlandia itu memilih untuk memberikan debut kepada pemain Brasil itu pada pertandingan awal September dengan Sunderland. Dia digunakan dalam peran yang mirip dengan yang dia mainkan di Porto, tepat di belakang striker Wayne Rooney.

Namun, dia tidak efektif, ditarik keluar di babak pertama, dan dengan cepat menemukan posisinya disesuaikan dengan peran yang lebih dalam. Sejak itu, mulai terdengar bahwa tekel keras dari Katsouranis, membuat Anderson kehilangan kecepatan kakinya yang tidak pernah dia dapatkan kembali. Secara total ia bermain 38 kali di musim debutnya, meskipun ia mencatat lebih banyak medali daripada kontribusi untuk gol. Kegagalan untuk mencetak gol lewat penampilan yang lebih dari 2.200 menit adalah kekecewaan. Kekecewaan yang tidak pudar, meski dia berhasil mencetak gol saat babak adu penalti di final Liga Champions kontra Chelsea.

Setelah satu musim aktif bermain di Man United, musim selanjutnya dia kerap kali mengalami cedera. Terlepas dari kurangnya kontribusi ini, dia sekarang telah memantapkan dirinya sebagai favorit kultus bagi penggemar United, yang memberinya nyanyian menarik yang terkenal membandingkan gelandang itu dengan Cesc Fàbregas.

Musim 2009/10 dimulai dengan gol pertama yang telah lama tertunda untuk klub, penyelesaian bola rebound naluriah dari tepi area penalti dalam kemenangan 3-1 di Tottenham. Namun sebuah noda hitam dari karier sang wonderkid dari Brasil mulai terlihat. Dimulai dari perselisihan dengan Ferguson pada Januari 2010, di mana manajer mempertanyakan kurangnya profesionalisme dan mengeluarkannya dari skuad matchday untuk beberapa pertandingan beruntun. Kemudian, sebulan kemudian, ia mengalami cedera ligamen anterior saat melawan West Ham, dengan yang membuat Anderson absen sampai akhir musim 2009/2010.

Selama absen Panjang ini, dia kembali ke Portugal untuk fokus pemulihan cedera, di mana ia terlibat dalam kecelakaan mobil pukul 7 pagi. Insiden ini membuat Sir Alex Ferguson makin kesal kepadanya. Anderson kembali ke tim pada awal September dan, meskipun masuk dan keluar dari line-up karena masalah cedera lain pada Februari 2011, dia berhasil membantu United meraih gelar Liga Inggris 2010/2011. Catatan khusus dalam musim ini adalah dua golnya dalam kemenangan 4-1 di leg kedua semifinal atas Schalke, yang memastikan final Liga Champions ketiga dalam empat tahun terakhir untuk pemain Brasil itu. Namun, dia adalah pemain pengganti yang tidak digunakan dalam pertandingan ini, yang sekali lagi berakhir dengan kekalahan dari Barcelona.

Cedera lutut lainnya membuatnya menghabiskan musim 2011/12 dari tribun penonton, dengan masalah hamstring menghambat musim berikutnya, yang lagi-lagi berakhir dengan medali emas juara Liga Inggris. Yang penting adalah kepergian Ferguson, seorang pria yang tidak seperti biasanya setia dan gigih dengan Anderson.

David Moyes yang saat itu datang sebagai pengganti Sir Alex Ferguson ternyata tidak mengubah sedikit pun situasi Anderson di klub. Kurangnya komitmen sang pemain dianggap bertentangan dengan etos kerja keras Moyes, yang berujung pada paruh pertama musim, total dia hanya bermain untuk 247 menit. Pada Januari 2014 dia dipinjamkan ke Fiorentina, dan meskipun Vincenzo Montella menunjukkan kepercayaan pada awalnya, performa buruk membuat dia kembali ke bangku cadangan.

Akhir Karier di Eropa, Kembali ke Brasil dan Pensiun Dini

Anderson
Anderson, salah satu pemain berbakat asal Brasil yang abadi sebagai wonderkid.

Dia kembali ke Old Trafford dengan situasi klub baru memecat Moyes, meskipun penggantinya juga tidak terkesan dengan kemampuan Anderson. Louis van Gaal terkenal selektif terhadap para pemainnya dan melihat pemain Brasil itu tidak masuk kriterianya. Karena sering cedera, dia lebih sering melakukan latihan kebugaran yang dibutuhkan agar kembali ke kondisi terbaiknya. Sangat disayangkan, selama rehabilitasi dia malah dikenal media hobi makan junk food, kebiasaan buruk yang bakal merusak tingkat kebugaran seorang atlet

Anderson hampir tidak pernah terlihat mengenakan seragam United lagi. Masih berusia 26 tahun, dia bahkan kesulitan untuk bisa masuk ke daftar bangku cadangan Louis van Gaal, yang akhirnya mau tidak mau harus kembali ke Brasil pada Januari 2015.

Dia bergabung dengan rival Gremio, yakni Internacional. Klub yang gawangnya jadi sarang atas gol perdananya dalam karier professional di lapangan hijau. Kiprahnya di Internacional tidak terlalu mulus, hingga pada akhirnya dilepaskan pada awal tahun 2018. Hampir tujuh bulan tanpa klub, dia kembali ke Eropa untuk gabung klub Turki, Adana Demirspor. Hanya semusim dan kariernya tidak kunjung membaik, dia memutuskan pension di usia 31 tahun.

Usia yang terbilang sangat cepat untuk pemain berbakat emas yang tak pernah menjadi pemain top. Itulah alasan kenapa Anderson layak menyandang status sebagai wonderkid abadi. Karena dia tidak pernah mampu menunjukkan kualitasnya di level tertinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *