by

Tim Nasional Yugoslavia Era 1990-an: Skuat Ajaib yang Musnah karena Perpecahan Etnis dan Agama

Pada tahun 1991, Red Star Belgrade yang dibela para pemain hebat seperti Savićević, Prosinečki dan Pančev memenangkan Liga Champions, mengalahkan tim Marseille yang memiliki bintang-bintang seperti Jean-Pierre Papin, Abedi Pele dan Chris Waddle. Dalam hal sepak bola di Balkan, ini mungkin merupakan saat-saat terbaik mereka. Sementara itu, negara mereka sedang terpecah belah akibat perpecahan etnis dan agama yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Keadaan mulai memanas pada tahun 1991 saat Slovenia meninggalkan Yugoslavia, dengan tercetusnya Perang 10 Days. Ketika orang-orang Slovenia berusaha untuk bergerak menuju kemerdekaan, tentara Yugoslavia – yang sebagian besar dipimpin oleh Serbia – terlibat konflik dengan Slovenia. Perang ini diakhiri dengan negosiasi, tetapi pada tahun 1992 Slovenia secara resmi diakui sebagai negara merdeka, bukan lagi negara bagian Yugoslavia.

Ketika Perang Kemerdekaan Kroasia terus dilakukan, ketegangan etnis dari dalam Bosnia dan Herzegovina meledak dan orang-orang Kroasia-Bosnia, Serbia-Bosnia, dan Bosniak saling berperang satu sama lain. Pertempuran itu sangat mengerikan bagi semua pihak, dengan sebagian besar kengerian dan kejahatan perang dalam Perang Yugoslavia dilakukan di Bosnia. Pada akhir perang di tahun 1995, dengan ditandatanganinya perjanjian damai, Yugoslavia sebagai sebuah ide untuk menggabungkan semua negara Slavia menjadi satu negara, telah pupus.

Tentu saja, negara ini akan terus terpecah setelah Perjanjian Dayton, yang mengarah ke negara-negara merdeka saat ini yaitu Serbia, Kosovo, Kroasia, Slovenia, Montenegro, Makedonia, dan Bosnia dan Herzegovina. Namun, dalam hal sepak bola, tanpa meremehkan tindakan dan efek mengerikan dari perang di Yugoslavia, tragedi utama adalah perpecahan yang terjadi pada awal 1990-an, dan khususnya kemerdekaan Kroasia. Hal ini sangat mungkin merampas kekuatan pada aspek sepak bola dari salah satu tim nasional terhebat yang pernah ada di dunia.

Awal Mula Kekuatan Sepak Bola Yugoslavia Muncul

Yugoslavia, negara dari Eropa Timur yang pernah disebut sebagai Brasil-nya Eropa ketika tampil di Piala Dunia.

Pada tahun 1987, Yugoslavia memenangkan Piala Dunia U-20 FIFA yang diadakan di Chili. Awalnya, tim yang diterbangkan hanyalah untuk menambah jumlah pemain karena sejumlah pemain kunci seperti Aleksandar Đorđević, Igor Berecko, Dejan Vukićević, Igor Pejović, Seho Sabotić, dan Boban Babunski mengalami cedera atau terkena skorsing. Sementara Siniša Mihajlović, Vladimir Jugović, serta Alen Bokšić diberitahu bahwa mereka akan mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan bermain di Liga Utama Yugoslavia. Red Star memutuskan bahwa mereka menginginkan Robert Prosinečki untuk pertandingan Liga Champions yang sangat penting dan berusaha untuk membawanya pulang. Setelah keputusan FIFA bahwa Prosinečki akan tetap tinggal, dia menjadi salah satu pemain penting di turnamen junior tersebut.

Namun, ini bukanlah tim yang bekerja sendirian. Prosinečki juga dibantu oleh para pemain seperti Zvonimir Boban, Davor Šuker, Robert Jarni, dan Predrag Mijatović. Menentang semua ekspektasi dari para pejabat Yugoslavia, para bintang muda ini dengan mudah berada di puncak grup yang juga diisi oleh Chili, Australia, dan Togo. Seperti yang biasa terjadi pada kebanyakan tim Yugoslavia, tim ini merupakan tim yang berkarakter, dan para jurnalis mengidentifikasi bahwa tim ini menyadari mereka akan tetap berada di Santiago jika memuncaki grup mereka.

Di perempat final, mereka harus menghadapi tim kuat Brasil. Undian ini sungguh ironis, karena Yugoslavia sebelumnya dijuluki sebagai Brasil-nya Eropa. Yang mana mereka berhasil mengalahkan Brasil dengan skor 2-1 melalui gol Mijatović dan Prosinečki, untuk kemudian menghadapi Jerman Timur di semifinal. Jerman Timur berhasil dikalahkan dengan skor 2-1 berkat gol-gol dari Igor Štimac dan Šuker. Jerman Barat bahkan mampu dikalahkan melalui adu penalti seperti halnya Red Star yang mengalahkan Marseille dalam kemenangan Liga Champions 1991. Pada level junior U-20, Yugoslavia memiliki tim sepak bola terbaik di dunia. Namun, sebagai sebuah negara, Yugoslavia sangat jauh dari kata ‘baik’.

Tentu saja, seandainya negara ini tetap bersatu, Anda akan berasumsi bahwa para pemain kunci dari tim pemenang Piala Dunia U-20 1987 ini akan mengisi tim nasional Yugoslavia di Piala Dunia 1994 mendatang, ketika rata-rata usia mereka 25 atau 26 tahun, yang mana ini masa keemasan seorang pesepakbola. 

Ketika Anda mempertimbangkan bahwa mereka akan ditambahkan ke dalam daftar pemain yang memiliki nama-nama besar seperti Savićević, Darko Pančev, Mihajlović, Stojković, dan Katanec, ini adalah tragedi besar dalam sejarah sepak bola karena mereka tidak pernah diizinkan untuk satu tim nasional dengan bendera Yugoslavia. Bahkan, Katanec mengatakan bahwa seandainya negara ini bisa bersatu, minimal sekali lagi, maka tim ini siap ‘menaklukkan dunia’. Bayangkan lini tengah yang terdiri dari Boban, Prosinečki, Savićević dan Stojković yang akan memanjakan lini serang seperti Pančev, Bokšić dan Šuker. Kreatif dan megah, dan tidak diragukan lagi, menarik untuk ditonton.

Andai-andai Jika Yugoslavia Tidak Pecah

Dragan Stojković, salah satu pemain hebat Yugoslavia ketika masih eksis di dunia sepak bola.

Bangsa “apa yang seharusnya” menyelimuti sepak bola di Balkan setelah runtuhnya Yugoslavia – ini menjadi sebuah pertanyaan besar. Terlebih lagi, tidak ada negara bekas Yugoslavia yang ikut serta di Euro 1992 atau babak grup Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Untuk melihat potensi sebenarnya dari apa yang bisa dilakukan oleh generasi spesial sepak bola Yugoslavia ini, satu-satunya bukti yang harus kita lihat adalah Piala Dunia 1998 di Prancis. Masih teringat jelas bahwa Kroasia – yang saat itu berlaga di Piala Dunia pertama mereka – finis di tempat ketiga, mengalahkan Belanda di perebutan tempat ketiga, dengan tim yang berisikan Prosinečki, Boban, Jarni, Bokšić, dan Šuker.

Namun, mayoritas orang melupakan bahwa Yugoslavia, yang secara efektif hanya ada dua negara seperti Serbia dan Montenegro, yang berhasil lolos ke babak sistem gugur sebelum dikalahkan oleh semifinalis Belanda, dengan tim yang terdiri dari Stojković, Mijatović, Mihajlović, dan Dejan Savićević. Yugoslavia berada di urutan ke-10 di Prancis, yang berarti bahwa tim terbaik ketiga dan ke-10 di dunia pada Piala Dunia 1998, berasal dari satu bangsa yang sama, yakni Yugoslavia.

Namun, beberapa dari bintang-bintang tersebut mulai berkurang setelah Prancis 98. Pada kenyataannya, 1998 bukanlah tahun terbaik bagi sepak bola Yugoslavia. Savićević, khususnya, yang merupakan salah satu gelandang serang terbaik di dunia, hanya memainkan dua pertandingan untuk Yugoslavia di Prancis. Gelandang serang hebat lainnya, Dragan Stojković, juga memasuki masa-masa akhir karier internasionalnya, membuat penampilan terakhirnya pada tahun 2001.

Selain itu, Darko Pančev, pahlawan kemenangan Liga Champions untuk Red Star, bermain untuk tim nasional Makedonia pada masa itu dan, sebagai hasilnya, tidak pernah bermain di Piala Dunia 1998. Puncak karier Pančev terjadi pada awal hingga pertengahan 1990-an, meskipun ia mengalami masa-masa buruk di Inter Milan, yang sebagian besar bukan karena kesalahannya, dan sama seperti pemain-pemain dari generasinya yang lain, masa-masa itu bertepatan dengan Piala Dunia 1994 di Amerika.

Amerika Serikat 94 tidak dianggap sebagai salah satu Piala Dunia terbaik, dan meskipun Italia dan Brasil adalah tim yang layak berada di final, semifinalis yang mengejutkan adalah Bulgaria – yang dipimpin oleh Hristo Stoichkov dari Barcelona, bersama Swedia. Bisa dibayangkan jika tim nasional dari negara-negara konstituen Yugoslavia digabungkan untuk maju satu tim peserta di Piala Dunia 1994, Anda akan melihat satu tim yang penuh dengan bakat kelas dunia di usia keemasannya.

Hanya untuk berfantasi, mungkin seperti inilah komposisi Yugoslavia jika belum bubar sebagai sebuah negara di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. Zvonimir Boban, Davor Šuker, Robert Jarni, Predrag Mijatovic, Dragan Stojković, Dejan Savićević, Darko Pančev, Robert Prosinečki, Refik Šabanadžović, Alen Bokšić, Siniša Mihajlović, dan Vladimir Jugović. Sulit untuk dipercaya bahwa mereka tidak akan mencapai setidaknya semi-final. Ketika Anda berpikir bahwa Swedia dan Bulgaria merupakan tim yang berada di posisi ketiga dan keempat, Anda harus percaya bahwa Yugoslavia di tahun 1994 setidaknya bisa masuk empat besar atau runner-up bahkan bisa mengejutkan dengan mengangkat trofi Piala Dunia.

Namun, barusan hanyalah fantasi. Kita tidak akan pernah tahu. Kita tidak akan pernah tahu seberapa bagus tim sepak bola Yugoslavia. Satu-satunya petunjuk yang kita miliki adalah penampilan mereka di tingkat klub dan bagaimana negara-negara pecahan mereka, tampil di lapangan hijau di sepak bola modern sekarang.

Kita hanya bisa berpikir dan bermimpi. Kalimat tersebut menggambarkan Yugoslavia dan tim sepak bola yang dirindukan oleh seluruh dunia. Tim ajaib yang musnah karena perpecahan etnis dan agama.