by

Liga Champions 2007, Ajang Balas Dendam Istanbul dari AC Milan untuk Liverpool

Tentu semua orang mengenang Drama Istanbul, ketika AC Milan kalah dari Liverpool secara dramatis. The Reds mengejar ketertinggalan tiga gol dan memaksa Milan melalui adu penalti yang berakhir kemenangan untuk klub asal Merseyside itu.

AC Milan tidak dapat berbuat banyak setelah kekalahan menyakitkan itu, mereka hanya menunggu dan bersabar. Beruntung, dengan manajer yang masih sama, yakni Carlo Ancelotti, Rossoneri kembali mencapai babak final Liga Champions 2007. Ya, dua tahun sudah setelah Drama Istanbul, lawan mereka pun tetap sama yakni Liverpool. Ini kesempatan balas dendam yang terbaik. 

Di awal musim, AC Milan sebenarnya mengawali perjalanan mereka di Liga Champions musim 2005/2006 dari babak kualifikasi. Mereka berhasil mengalahkan Red Star Belgrade dan masuk ke babak grup tergabung bersama Lille, Anderlecht dan AEK Athens. Babak grup yang terbilang mudah dan AC Milan tentu saja diprediksi akan mulus melaju ke babak 16 besar. 

Benar saja, tiga kemenangan dan sekali imbang hanya dari empat laga perdana grup, AC Milan sudah menempatkan satu kakinya di babak 16 besar. Dua pertandingan tersisa, Carlo Ancelotti pun menganggap enteng yang membuat mereka kalah beruntun dari AEK Athens dan Lille. 

Dengan torehan 10 poin, mereka masih mengakhiri fase grup dengan berada di puncak klasemen Grup G. Lille, mengantongi 9 poin menemani wakil Italia itu ke babak 16 besar. Fase gugur, wakil kuat Skotlandia Celtic sudah menunggu AC Milan, yang membuat tim asuhan Ancelotti sempat kesulitan dengan leg pertama berakhir imbang tanpa gol. Pada leg kedua yang dihelat di San Siro, juga berakhir tanpa gol yang membuat laga harus lanjut ke babak perpanjangan waktu. 

Baru tiga menit babak perpanjangan waktu berlalu, Massimo Ambrosini memberikan umpan kepada Kaka, yang langsung menggiringnya dan melewati beberapa pemain Celtic. Yang diakhiri dengan tendangan jarak dekat dan melesat melewati kolong kaki kiper Celtic Arthur Boruc. Gol ini cukup membawa AC Milan lolos ke perempatfinal dengan skor agregat 1-0. 

Dihadang Bayern Munchen di Perempatfinal

Ricardo Kaka saat membela AC Milan di Liga Champions 2006/2007. (sumber: Pinterest)

Lolos ke perempatfinal tidak membuat AC Milan bernafas lega, melainkan sebaliknya, setelah melihat bracket, mereka harus menghadapi Bayern Munchen. Mungkin keberuntungan Rossoneri hanyalah leg pertama dimainkan lebih dulu di kandang mereka San Siro. Benar saja, leg pertama di San Siro memberi keuntungan besar untuk skuat asuhan Ancelotti. 

Jelang babak pertama di leg pertama berakhir, publik San Siro bersorak-sorai saat tandukan Andrea Pirlo tidak dapat dihalau oleh kiper Bayern Munchen Michael Rensing. Tapi sayang, gol Pirlo itu disamakan oleh Daniel Van Buyten yang berhasil mengoyak jala gawang Milan menit ke-78. 

Pada menit ke-83, wasit meniup peluit tanda pelanggaran pemain Bayern kepada AC Milan di kotak terlarang. Kaka, lagi-lagi berusaha menyelamatkan wajah klubnya, dengan tenang mencetak gol dari titik putih penalti menit ke-84. Namun, Van Buyten membuat Bayern kembali menyamakan skor menit-menit terakhir, yang membuat Bayern harus pulang dengan hasil imbang dan keunggulan dua gol tandang. 

Sepekan kemudian, Ancelotti dan anak-anak asuhnya terbang ke Kota Munich dengan satu ambisi, kemenangan adalah harga mati untuk lolos ke semifinal. Sadar akan pentingnya tiga poin, pergerakan tanpa bola luar biasa dan teknik tinggi, menjadi elemen penting untuk Milan menguasai jalannya pertandingan leg kedua di Jerman. Seedorf dan Filippo Inzaghi mencetak dua gol dalam waktu berdekatan, sekaligus memastikan tiket semifinal dikantongi oleh Milan. 

Jalan Semakin Terjal, Manchester United Menunggu di Semifinal

AC Milan saat tampil di Liga Champions 2006/2007. (sumber: Pinterest)

Kemenangan agregat 4-2 atas Bayern Munchen seperti membawa AC Milan ke jalan yang semakin terjal dengan Manchester United menunggu di babak semifinal. Man United, benar-benar menjadi ‘setan merah’ dengan Cristiano Ronaldo yang masih belia, Rossoneri mengalami mimpi buruk di Old Trafford. Baru lima menit leg pertama digelar, Ronaldo mencetak gol lewat sundulan, yang ditepis oleh Dida namun bola masih masuk ke gawang. 

Tertinggal 0-1 di Old Trafford dan Manchester United terus menekan mereka, Ancelotti sadar anak-anak asuhnya harus membalikkan keadaan. Siapa lagi kalau bukan Kaka, yang sedari awal pertandingan mendapat pengawalan ketat. Satu momen, ketika dia berhasil keluar dari penjagaan ketat, langsung menggiring bola melewati tiga pemain dan melesakkan bola rendah yang gagal dihalau oleh Edwin van der Sar. Skor pun imbang 1-1 pada menit 22. 

Selang 15 menit, Kaka kembali mengangkat kedua tangannya ke langit sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan YME – selebrasinya yang terkenal. Kaka berlari kencang mengejar bola liar dengan Gabriel Heinze dan Darren Fletcher juga mengapitnya. Dengan teknik kelas tinggi dan kelincahannya, gelandang legendaris Brasil itu bahkan membuat Heinze berbenturan dengan Patrice Evra. Setelahnya, dia melepaskan tembakan yang lagi-lagi gagal diantisipasi oleh Van der Sar, keunggulan 2-1 menit ke-37 untuk AC Milan.

Namun penampilan gemilang Kaka tidak diimbangi oleh rekan-rekan setimnya yang lain. Ketika unggul 2-1, wilayah pertahanan Milan diserang habis-habisan oleh Man United, membuat anak-anak asuh Ancelotti kewalahan. Wayne Rooney pun menyamakan skor menit ke-59, kemudian juga mencetak gol kedua sekaligus penentu kemenangan menit ke-91. Sihir Kaka seperti pudar begitu saja ketika peluit panjang dibunyikan, Milan pulang ke Italia dengan kekalahan 3-2. 

Leg kedua pun digelar di San Siro, dengan hanya butuh 11 menit untuk Kaka kembali memamerkan sihirnya lewat tendangan kaki kiri yang menaklukkan Edwin van der Sar. Skor dari leg pertama pun menjadi imbang 3-3 dan secara agregat, Milan sudah menang gol tandang untuk lolos ke final. Namun Milan tidak berhenti, mereka cetak gol kedua saat laga berjalan setengah jam lewat aksi individu Seedorf yang menerobos pertahanan Man United dan menaklukkan Van der Sar. 

Gol Gilardino menit ke-78 semakin memastikan langkah Milan untuk mematahkan teori All England Final di Liga Champions musim tersebut. Tidak hanya itu, kemenangan 3-0 atas MU ini memastikan final Liga Champions 2005 punya sekuel, alias pembalasan dendam kepada Liverpool. 

Pembalasan Dendam kepada Liverpool

Ricardo Kaka saat membela AC Milan di Liga Champions 2006/2007. (sumber: Pinterest)

Meski partai final Liga Champions 2006/07 digelar di San Siro, yang mana merupakan kandang sendiri, Milan tidak mau mengenakan jersey merah-hitam kebanggaan. Melainkan jersey putih dengan strip merah, yang hampir mirip dengan jersey yang dikenakan di final Liga Champions 2004/05, ketika mereka kalah dramatis dari Liverpool. Rossoneri seolah ingin membuktikan mampu membalas dendam dan menghilangkan trauma mereka. 

Filippo Inzaghi, pada partai final Liga Champions 2007 ini memang sedang jadi sorotan, karena dia diharapkan mampu jadi pembeda. Benar saja, hal itu terlihat ketika Xabi Alonso menjatuhkan Kaka di tepi kotak penalti, yang tentu membuat fans Liverpool khawatir. Bagaimana tidak, Milan kala itu memang punya sejumlah pemain yang piawai mengeksekusi tendangan bebas, sebut saja, Pirlo, Seedorf, Kaka, Gattuso, dan masih banyak lagi. Akhirnya, Pirlo yang mengeksekusi tendangan bebas itu. 

Pirlo melengkungkan bola di atas kotak penalti melewati para pemain Liverpool tepat ke arah sang kiper Pepe Reina. Namun sebelum bola jatuh ke pelukan kiper asal Spanyol itu, Inzaghi menerima sepakan Pirlo dengan dadanya dan dengan mudah menceploskan bola ke dalam gawang yang kosong. Tepat menit ke-45, Milan unggul 1-0, balas dendam kian terasa nyata malam itu. 

Di babak kedua, baik Milan dan Liverpool bermain sangat tertutup hampir 40 menit waktu berjalan. Tidak ada gol lagi tercipta hingga menit ke-82, Kaka melakukan dua sentuhan sebelum melepaskan umpan terobosan yang cantik melewati para pemain Liverpool. Searah tujuan umpan cantik itu, Inzaghi berlari bebas terlepas dari jebakan offside. Melihat itu, Pepe Reina maju berusaha untuk mempersempit sudut pandang striker Italia itu. Namun, Inzaghi lebih cerdas dengan menyentuh bola melewati Reina, dan melesakkan bola dengan mudah, lagi-lagi ke gawang yang kosong tanpa penjagaan seorang pun. 

Striker Italia yang memang dikenal sebagai ‘Si Kancil’ karena kelincahannya itu, berlari ke sudut lapangan dan berbalik menyambut pelukan yang diberikan rekan-rekan setimnya. Namun, menit ke-89, Milanisti kembali dibuat cemas ketika tandukan Dirk Kuyt menjebol gawang Dida. Beruntung, kekhawatiran itu hanya sementara, karena hingga peluit panjang tanda laga berakhir, tidak ada drama comeback seperti drama Istanbul. 

Spontan setelah peluit panjang berbunyi, Kaka melepaskan jerseynya dan berlari gembira, dengan kutang khas miliknya yang bertuliskan ‘Aku Milik Yesus’. Para fans Milan di seluruh dunia tentu bernafas lega dan bersorak-sorai melihat timnya memastikan diri sebagai juara LIga Champions 2006/2007. Apalagi ketika melihat Kaka segembira itu, karena para fans Milan tentu menyadari, tanpa gelandang legendaris Brasil itu yang mencetak 10 gol di Liga Champions musim tersebut, misi balas dendam atas Drama Istanbul tahun 2005, hanya akan jadi angan-angan belaka.