Satu musim bersama klub Liga Italia yang kurang tenar, Torino, ternyata memberi Denis Law banyak pelajaran hidup. Yang membantunya untuk menjadi sosok yang kini dikenal sebagai legenda Manchester United.

Di Italia dia mengalami banyak kejadian yang memang bisa dipetik, menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan kariernya sebagai pemain sepak bola professional. Mulai dari kecelakaan mobil yang hampir menewaskan sahabatnya, berkelahi dengan paparazzi, berurusan dengan manajernya sendiri yang meminta wasit untuk mengirimnya pergi, dan melarikan diri dengan pesawat kembali ke Skotlandia padahal tidak diizinkan oleh klubnya.

Namun, dia melewati itu semua dengan sukses dan hingga hari ini, menjadi salah satu pemain asing terbaik yang pernah berseragam Torino. Law masih berusia 21 tahun saat dia berangkat dari penginapan sederhana di Manchester untuk terbang ke Turin dan diberikan tempat tinggal di sebuah apartemen mewah di pusat Kota Turin.

Tapi memang, berangkat dari kehidupan sederhana, meski usianya masih muda saat itu, dia sudah terbiasa mandiri dan sangat senang dengan tantangan. Pada tahun 1955 saat usianya masih 15 tahun, dia bergabung dengan skuat senior Huddersfield, tim divisi dua Inggris, meninggalkan keluarganya di Aberdeen, Skotlandia.

Bermain pertama kali di Yorkshire, reputasinya berkembang dengan pesat dan mulai menarik perhatian klub-klub besar Liga Inggris, tentu saja kasta tertinggi. Pelatih legendaris Manchester United, Sir Matt Busby menawarkannya 10 ribu poundsterling yang saat itu sudah sangat besar, apalagi untuk pemain yang muda sepertinya. Bill Shankly, manajer legendaris Liverpool ingin juga membawanya ke Merseyside pada tahun 1956-1957. Tapi tawaran tersebut ditolak dan dia memilih untuk gabung Manchester City yang masih ada di kasta kedua pada musim 1960/1961.

Musim perdananya sebagai punggawa Man City, dia mampu mencetak 21 gol dalam 44 pertandingan. Performa ini membuatnya menjadi target panas untuk klub-klub besar yang berada di Liga Inggris, termasuk Manchester United dan Liverpool yang masih ingin meminangnya.

Menarik Perhatian Klub-klub Serie A Italia

Kenal dengan nama John Charles? Pemain yang bisa disebut sebagai pembuka jalan bagi para pemain Britania Raya untuk coba main di luar negeri. Karena penampilannya yang sukses Bersama Juventus, membuat klub-klub Italia lainnya jadi tertarik pada bakat-bakat dari Britania Raya.

Pada November 1960, Law juga menjadi bagian dari Liga Inggris Select yang menghadapi Italia Select di San Siro. Liga Inggris Select memang kalah 4-2, namun Law mencetak salah satu dari dua gol yang terjadi. Saat itu, seorang agen sepak bola Italia langsung jatuh hati pada cara bermain seorang Denis Law.

Bak gayung bersambut, Law sendiri juga mengaku terpesona oleh semangat tifosi dan gaya hidup glamor para pemain Italia. Pembatasan kebijakan upah maksimum di Inggris dicabut pada akhir musim 1960/61, namun uang yang ditawarkan oleh raksasa Serie A membuat gaji yang ditawarkan City seperti tidak apa-apa. Wajar, City saat itu masih tim kasta kedua.

Torino yang bisa dibilang menjadi salah satu kekuatan sepak bola Italia pun bersedia menawarkan kontrak dengan bayaran tambahan ketika mencetak gol, alias bonus. Tentu saja itu menjadi sebuah hal yang menarik bagi seorang striker murni seperti Law.

Torino sendiri baru saja kembali promosi ke Serie A setelah degradasi ke Serie B tahun 1959. Saat kembali ke kasta tertinggi tahun 1961, Torino pun siap menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk membuat klub bangkit.

Luigi Peronace adalah seorang agen hebat yang memuluskan langkah John Charles ke Juventus, namun di tahun ini dia bekerja untuk Torino. Akhirnya Law mendarat di Turin dan gabung ke Torino dengan biaya transfer sebesar 110 ribu poundsterling, harga yang saat itu jadi rekor untuk pemain asal Britania Raya.

Gabung Torino dan Kehidupan di Italia

Denis Law
Denis Law ketika masih membela Manchester City, sebelum merantau ke Torino.

Ketika Law tiba di Bandara Turin, dia disambut oleh ribuan fans Torino yang membuat pemain muda sepertinya sumringah. Pelatihan pra musim saat itu juga membuat seluruh tim menginap di sebuah hotel mewah di pegunungan Alpen. Law juga merasa sangat senang dengan pendekatan permainan yang lebih teknis (khas sepak bola Italia), sangat kontras dengan apa yang dia dapatkan dari pelatih-pelatihnya selama di Inggris.

Namun Law seperti menyadari bahwa kehidupan di Italia, negeri orang, tidak akan pernah mudah untuk siapa pun. Konflik pertamanya diawali dengan Inter Milan yang menuntut Torino ke jalur hokum, karena Nerazzurri mengaku sudah menjalin pra kontrak dengan Law. Tapi kesepakatan terjadi di antara kedua klub tanpa harus menempuh jalur hokum lebih lanjut.

Denis Law pun bisa fokus pada persiapannya yang membuahkan hasil sesuai harapan. Dia langsung mencetak gol pada laga debutnya di kendang Torino saat menghadapi Vicenza. Awal yang baik untuk hidup di Italia, kira-kira itulah yang dipikirkan oleh Law. Dalam enam penampilan pertamanya, dia juga berhasil mencetak empat gol dan membawa Torino menang menghadapi rival sekota yang amat kuat, Juventus. Fans garis keras atau lebih sering disebut Ultras, langsung menyebutnya sebagai fuoriclasse alias superstar.

Namun kehidupannya di luar lapangan sangat berbeda ketika tampil di stadion. Meskipun senang dengan segala pengetahuan teknis yang didapat, Law merasa risih dengan permainan kasar dan sinis oleh bek-bek Italia setiap menghadapinya. Sementara di luar lapangan, paparazzi juga membuatnya kesal beberapa kali. Bagaimana tidak, mereka hampir setiap hari menunggu dia keluar di gerbang apartemen. Bagi pria muda yang lagi senang-senangnya bergaul namun dikejar-kejar paparazzi, rasanya tentu amat kesal. Belum lagi kedisiplinan yang ketat oleh klub Italia yang biasa menginap di hotel 24 jam sebelum pertandingan dan pemberlakuan jam malam. Masih muda tinggal di negeri orang, Law sering melanggar jam malam dan membuatnya dicap pers Italia sebagai ‘anak nakal’. Tidak heran, karena hal ini pula membuat paparazzi sampai membuntutinya setiap kali hendak bepergian.

Pada Januari 1962, Torino bertamu ke markas Venezia. Law dan rekannya sesame Skotlandia, Joe Baker pun berjalan-jalan di pusat kota ikonik itu namun setiap langkah mereka diikuti oleh sekelompok fotografer. Baker kesal dan membentak, melempar kamera ke sungai yang berakhir dengan saling pukul dengan seorang paparazzi. Law turun tangan menghentikan perkelahian tersebut. Namun seluruh keributan itu tertangkap kamera dan tersebar di halaman depan keesokan harinya. Bisa dibayangkan apa pendapat orang-orang? Law yang sudah dicap ‘anak nakal’ tertangkap kamera berkelahi dengan pers.

Minggu selanjutnya, Law mencetak gol terakhirnya di Serie A dalam kekalahan 2-1 dari Lecce. Law semakin frustrasi karena realitas pembayaran terkait bonus mencetak gol mulai seret usai enam pertandingan beruntun tanpa kemenangan.

Pada awal Februari 1962, semua anggota tim Torino berkumpul untuk makan malam. Sepulangnya dari acara makan malam, Denis Law dan saudaranya, Joseph juga Baker memutuskan untuk melanjutkan pesta tersebut. Mereka minum minuman alcohol seperti wiski sampai dini hari menjelang pagi. Joe akhirnya mengantarkan mereka pulang dengan mobil Alfa Romeo yang baru dibelinya pada pagi hari.

Mengemudi di sepanjang Corso Cairoli di pusat Turin dengan kecepatan jauh melampaui batas, Baker salah menilai belokan di bundaran dan memotong trotoar. Mobil itu terbalik dan meluncur ke arah Sungai Po sebelum akhirnya berhenti karena menabrak patung Giuseppe Garibaldi, pendiri Italia modern.

Buntut dari kecelakaan itu tersebar di halaman depan surat kabar keesokan paginya, memperkuat reputasi buruk Denis Law. Salah satu tajuk berita mencoba menemukan humor dalam situasi tersebut, menyatakan bahwa merekalah pesepakbola yang tidak dapat menggiring bola melewati Garibaldi. Hebatnya, Law lolos dengan luka ringan sedangkan Baker dalam keadaan koma dan membutuhkan operasi penyelamatan nyawa.

Kecelakaan tersebut juga membuat Law dilarang bermain oleh klub untuk beberapa pertandingan tetapi kembali sebelum akhir musim. Dalam pertandingan terakhirnya, melawan Napoli di Coppa Italia pada 25 April, dia menemukan bahwa manajernya sendiri telah meminta wasit untuk mengeluarkannya karena dia mengabaikan instruksi dan melakukan lemparan ke dalam.

Law, Pindah ke Manchester United dan Jadi Legenda

Denis Law
Denis Law, legenda Manchester United yang ternyata belajar banyak tentang kehidupan kala membela Torino.

Reputasinya terus bertambah buruk di Italia dan juga situasi klub sudah tidak mengenakkan, Law bertekad bulat untuk menyudahi kariernya di Serie A. Meski sang pemain merasa frustasi, tifosi Torino ternyata tetap memujanya sebagai pemain asing terbaik dalam sejarah klub.

Sempat terjadi saga transfer saat hendak pergi dari Torino, dengan Juventus sudah sepakat untuk membelinya. Law yang sudah kapok main di Italia, terbang sendiri ke Inggris untuk memastikan kepindahannya ke peminat lain, yakni Manchester United.

Berbagai kesulitan yang dialaminya semasa di Italia ternyata menjadi modal besar untuk kelanjutan karier seorang Denis Law, yang gabung Man United. Terbiasa dengan penjagaan ketat bek-bek Serie A, dia jadi striker yang pintar memanfaatkan ruang renggang di pertahanan lawan. Hal tersebut terbukti dengan torehan 29 gol dari 44 penampilan di semua kompetisi pada musim perdananya berseragam Setan Merah, dilengkapi dengan gelar juara Piala FA.

Musim berikutnya, dia juga mencetak 30 gol dari 30 penampilan di Liga Inggris, serta 10 gol dari enam penampilan di Piala FA. Dia bahkan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa alias Ballon d’Or pada musim 1963/64. Semusim kemudian, dia menjadi salah satu elemen penting dalam gelar juara Liga Inggris 1964/1965 yang diraih oleh Manchester United dan Sir Matt Busby. Dua musim kemudian, gelar juara yang sama pada musim 1966/1967 berhasil diamankan Setan Merah.

Puncaknya adalah saat MU menjuarai Liga Champions 1967/1968, meski Law mulai jarang main karena cedera lutut yang kambuhan. Hingga musim 1972/73 alias tahun terakhirnya berseragam MU, dia sukses mencatat 404 penampilan dan mencetak sebanyak 237 gol. Torehan tersebut menjadikannya pemain urutan ketiga sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub. Dia hanya kalah dari Bobby Charlton dan Wayne Rooney.

Meski tidak mengenakkan, pengalamannya bermain di Italia benar-benar mengubah segalanya. Mulai dari gaya bermain, mental yang ditempa di negeri orang sebegitu keras, hingga kesederhanaan yang terjaga, membuatnya menjadi legenda sepak bola Inggris dan Manchester United. Dia dikenal sebagai salah satu sosok yang paling berjasa dalam membangun kembali Man United usai Tragedi Munich yang terkenal itu.

Bahkan dirinya diabadikan dalam patung bernama United Trinity yang dibuat oleh seniman terkenal Inggris, Phillip Jackson dan diletakkan di kawasan Old Trafford. Dia kekal dan abadi sebagai legenda Manchester United.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here