Kobbie Mainoo, Semangat Anak Muda Tak Mau Menyerah di Manchester United
BOLAZOLA – Empat bulan terakhir menjadi periode paling suram dalam perjalanan karier Kobbie Mainoo bersama Manchester United. Namun, semangat anak muda yang tertanam dalam dirinya, membuatnya belum mau menyerah di Old Trafford.
Gelandang muda yang sempat digadang-gadang sebagai mutiara terbaik lulusan Carrington itu kini justru berada di titik terendah. Kini, namanya terus terpinggirkan di bawah kepemimpinan Ruben Amorim, khususnya sejak awal musim 2025/2026.
Kontrasnya terasa tajam. Tak lama berselang, Mainoo mencetak gol di final Piala FA melawan Manchester City dan tampil meyakinkan bersama timnas Inggris di Euro.
Namun musim ini, di bawah kepelatihan Amorim, pemain berusia 20 tahun itu bahkan belum sekali pun menjadi starter di Liga Inggris. Situasi tersebut perlahan menggerus posisinya, bukan hanya di lapangan, tetapi juga dalam relasi internal klub.
Tekad Mainoo Bertahan di Tengah Tekanan
Sebelumnya, Mainoo sempat meminta izin kepada manajemen klub untuk hengkang dengan status pinjaman pada bursa musim panas. Permintaan itu ditolak, dengan pemilik bersama klub mendorongnya untuk bertarung merebut kembali tempat di tim utama.
Awalnya, sang gelandang hanya menginginkan opsi pinjaman. Namun perlakuan keras yang diterimanya membuat Mainoo sempat membuka pintu untuk hengkang permanen pada Januari.
Di tengah situasi tersebut, laporan The Sun menyebut adanya perubahan sikap pada sang pemain. Ia kini dikabarkan memilih bertahan dan berjuang kembali membuktikan diri di klub yang telah membesarkannya.
“Kobbie Mainoo bertekad untuk tidak menyerah pada kariernya di Manchester United meski melalui 13 bulan yang suram di bawah Ruben Amorim. Terlepas dari gesekan antara Mainoo dan Amorim, orang-orang terdekat lulusan akademi United berusia 20 tahun itu menyatakan ia bertekad menghidupkan kembali kariernya di Old Trafford,” tulis The Sun.
Antara Loyalitas, Sistem, dan Masa Depan
Pilihan Mainoo untuk bertahan bukan keputusan sederhana. Ia berada di persimpangan antara realitas sistem Amorim yang belum memberinya ruang dan loyalitas pada klub masa kecilnya.
Cedera mungkin telah menghambat kemungkinan hengkang, tetapi juga membuka waktu refleksi bagi pemain muda ini. Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Mainoo cukup bagus untuk Manchester United.
Melainkan apakah Manchester United, masih menyediakan ruang tumbuh bagi talenta sepertinya? Jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan akan menentukan apakah kisah Mainoo di Old Trafford berakhir sebagai cerita kebangkitan, atau justru talentanya terpendam begitu saja?



